GolonganDarah.Net Web Hosting

:: indrag ::

January 21, 2009

Tahun baru .. presiden baru

Filed under: Tulisan Bebas - indrag @ 8:09 am

Udah tahun 2009 ya … hehehe …
saking sibuknya sampe ngak sempat isi blog di awal tahun 2009 ini …

Tahun udah berganti, agenda di tahun ini sudah menunggu.
Kemaren, seluruh stasiun tv menyiarkan secara langsung pelantikan presiden baru Amerika Serikat .. sebagai pemenang pemilu pada akhir tahun 2008. Barack Husein Obama, demikian nama presiden ke 44 negara adidaya tersebut. Konon karena dia pernah tinggal dan bersekolah di negeri ini pada waktu masih kecil, makanya sambutan masyarakat Indonesia akan kemenangan dan pelantikan Obama demikian besar, walaupun pengaruhnya buat negeri ini ngak ada kali ya …

Tahun ini juga agenda politik negeri ini bakal panas dengan pertarungan memperebutkan posisi di lembaga legislatif dan posisi RI-1. Kalo diperhatikan calon-calon yang ingin dan akan bertarung adalah muka-muka lama. Nyaris tidak ada muka baru yang benar-benar fresh .. seperti sosok Obama yang merupakan muka baru dalam kancah perpolitikan negaranya.

Dengan banyaknya parpol dan banyaknya calon capres nanti, dan fanatisme yang berlebihan dari para pendukungnya, sudah dapat dipastikan pemilu nanti akan berpotensi rusuh dan ribut. Seperti yang telah terjadi pada pilkada di beberapa daerah. Pihak yang kalah tidak mau mengaku kalah, dan pihak yang menang merasa kemenangannya adalah bukan kemenangan seluruh rakyat sehingga merasa paling hebat daripada kompetitornya.

Jadi .. presiden kita nanti siapa ya ?

:: indrag ::

December 19, 2008

Masalah pendidikan anak

Filed under: Tulisan Bebas - indrag @ 4:22 am

Saya dapat kiriman di milist yang menarik perhatian saya dan coba saya tayangkan di blog ini.

Saya ingat waktu di SMA dulu, kami (murid) harus menjalani test IQ untuk penjurusan. Sekolah saya menetapkan bahwa murid2 dengan IQ tinggi bisa masuk ke jurusan IPA/Science. Murid dengan IQ sedang hanya bisa masuk jurusan Sosial dan yang paling rendah IQnya hanya diijinkan untuk masuk ke jurusan Bahasa.
Aturan di sekolah saya ternyata berlawanan dengan aturan dari SMA swasta terkenal di Yogyakarta yang mengarahkan anak-anak yang ber IQ paling tinggi justru ke jurusan Bahasa.
Sewaktu saya diskusi dengan Romo Mangun Wijaya (Alm) tentang kurikulum sekolah, Beliau mengatakan bahwa pen didikan di Indonesia masih mewarisi “budaya” kolonial Belanda.
Menurut beliau, seharusnya anak-anak yang kecerdasannya tinggi seharusnya diarahkan untuk masuk jurusan Sosial supaya di masa mendatang akan lahir ekonom, hakim, jaksa, pengacara, polisi, diplomat, duta besar, politisi dsb yang hebat2. Tetapi rupanya hal itu tidak dikehendaki oleh penguasa (Belanda). Belanda menginginkan anak-anak yang cerdas tidak memikirkan masalah2 sosial politik. Mereka cukup diarahkan untuk menjadi tenaga ahli/scientist, arsitektur, ahli computer, ahli matematika, dokter, dsb yang asyik dengan science di laboratorium (pokoknya yang nggak membahayakan posisi penguasa). Saya nggak tahu persis yang benar Romo Mangun Wijaya atau pemerintah Belanda. Hanya saja waktu itu saya yang kuliah ambil jurusan Kurikulum jadi patah semangat karena kayaknya kurikulum di Indonesia ini hampir tidak ada hubungannya dengan kehidupan yang akan dijalani orang setelah keluar dari sekolah.
Kita bisa lihat, Insinyur yang menjadi politisi bahkan memimpin parlemen, kemudian dokter (umum) bisa menjadi kepala Dinas P & K atau tenaga marketing, sarjana theologia yang jadi pengusaha, dsb. Sampai saat ini,masih banyak orang tua dan masyarakat yang beranggapan bahwa anak yang hebat adalah anak yang nilai matematika dan science-nya menonjol.
Paradigma berpikir orang tua/masyarakat ini sangat mempengaruhi konsep anak tentang kesuksesan. Bulan Juni 2003 yang lalu, lembaga tempat saya bekerja mengadakan seminar anak-anak.
Di depan 800-an anak, Kak Seto Mulyadi (Si Komo) menunjukkan 5 Rudy.
- Yang Ke-1 : Rudy Habibie (BJ Habibie) yang genius, pintar bikin pesawat dan bisa menjadi presiden.
- Yang Ke-2 : Rudy Hartono yang pernah beberapa menjadi juara bulu
tangkis kelas dunia.
- Yang Ke-3 : Rudy Salam yang suka main sinetron di TV
- Yang Ke-4 : Rudy Hadisuwarno yang ahli di bid. kecantikan dan punya byk salon kecantikan di bbrp kota.
- Yang Ke-5 : Rudy Choirudin yang jago masak dan sering tampil memandu
acara memasak di TV.
Sewaktu Kak Seto bertanya “Rudy yang mana yang paling sukses menurut kalian?” Hampir semua anak menjawab “Rudy Habibie” Sewaktu ditanyakan “Mengapa, kalian bilang bahwa yang paling sukses Rudy Habibie?” Anak-anakpun menjawab “Karena bisa membuat pesawat terbang, bisa menjadi presiden, dsb” Sewaktu Kak Seto menanyakan “Rudy yang mana yang paling tidak sukses?” Hampir seluruh anak menjawab “Rudy Choirudin” Ketika ditanyakan “Mengapa kalian mengatakan bahwa Rudy Choirudin bukan orang yang sukses?” Anak-anakpun menjawab “Karena Rudy Choirudin hanya bisa memasak” Memang begitulah pola pikir dan pola asuh dalam keluarga dan masyarakat Indonesia pada umumnya yang masih menilai kesuksesan orang dari karya-karya besar yang dihasilkannya. Masyarakat kita banyak yang belum bisa melihat kesuksesan adalah pengembangan talenta secara optimal sehingga bisa dimanfaatkan dalam kehidupan yang dijalaninya dengan “enjoy”. Banyak masyarakat kita yang beranggapan bahwa IQ adalah segala-galanya.
Padahal kenyataannya EQ, SQ dan faktor2 lain juga sangat menentukan. Dalam seminar tsb Kak Seto hanya ingin merubah paragidma berpikir anak-anak (dan juga orang tua/keluarga) . Anak-anak dan orang tua harus menyadari dan mensyukuri setiap talenta yang diberikan oleh Tuhan. Bila talenta tersebut dikembangkan dengan baik, maka kita bisa mencapai kesuksesan di “bidangnya”. Jadi untuk anak-anak yang tidak pintar matematika, anak2 tidak perlu minder dan orang tua tidak perlu malu atau menekan anak. Anak-anak yang lebih menyukai pelajaran menggambar daripada pelajaran2 lain, bukanlah anak-anak yang bodoh karena justru anak2 yang punya imajinasi tinggilah yang pintar menggambar/ melukis. Anak-anak yang suka ngobrol, kalau kita arahkan bisa saja kelak menjadi politisi atau negotiator yang baik.
Anak-anak yang banyak bicara, kalau diarahkan untuk menuliskan apa yang ingin dibicarakan bisa2 menjadi penulis yang hebat. *** Mbak Dwi Setyani juga mengingatkan kita untuk lebih memfokuskan pada kekuatan kita dari pada “wasting time” bersungut-sungut, hanya memikirkan kelemahan kita.
Saya pernah membaca pengalaman hidup seorang penyanyi di Amerika.
Penyanyi tsb dulunya tidak PD karena wajahnya tidak terlalu cantik dan giginya tonggos. Saat menyanyi di pub, dia repot mengatur bibirnya supaya giginya yang tonggos tidak dilihat orang. Hasilnya: ia hanya bisa menghasilkan suara yang pas-pasan. Ketika temannya meyakinkan bahwa giginya yang tonggos itu bukanlah masalah, maka iapun bisa menyanyi dengan bebas dan meng-eksplore suara emasnya. Ternyata orang- orang mengingat penyanyi itu karena kualitas suaranya, bukan parasnya yang jelek dengan gigi tonggosnya.
*** Kitapun meyakini bahwa Tuhan menciptakan setiap kita (manusia) dengan maksud yang terbaik demi kemuliaan-Nya. Kalau saja kita meyakini hal tersebut, maka semua orang akan mensyukuri keadaan dan memanfaatkan talenta yang Tuhan berikan untuk kemuliaan-Nya.
Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Saya sangat setuju dengan pernyataan diatas, kita harusnya mensyukuri talenta yang diberikan Tuhan kepada kita. Tuhan tidak akan menciptakan makhluknya tanpa tujuan.
Mengenai pembentukan pola pikir di masyarakat kita yang terlalu mengedepankan IQ dan pendidikan formal saya rasakan juga tidak efektif lagi. Kurikulum yang diterapkan oleh sistem pendidikan di Indonesia terlalu membebani anak. Konsentrasi kurikulum tsb masih mengharapkan nilai yang terbaik bukan pada kemampuan peserta didik memahami dan mengerti materi yang dipelajarinya.
Untuk kondisi diatas selama kurikulum di negeri ini masih seperti sekarang saya rasa juga tidak akan berjalan. Anak yang mempunyai bakat menulis tapi tidak tertarik dengan matematika mau tidak mau harus mengikuti kurikulum yang sudah ditetapkan. Belajar matematika dengan keterpaksaan hanya demi memperoleh nilai sebagai syarat kelulusan atau naik ke tingkat yang lebih tinggi. Tidak seperti di negara maju (saya hanya melihat visualisasi melalui televisi atau film), dimana setiap anak bisa memilih mata pelajaran yang diminatinya dan sesuai dengan bakatnya, entah itu benar atau hanya dalam film saja.

:: indrag ::

December 5, 2008

Drive safely ya …

Filed under: Tulisan Bebas - indrag @ 6:28 am

Dapat kiriman dari milist, lumayan buat mengingatkan diri sendiri supaya selalu hati-hati dijalan. Karena jalanan bukan hanya milik kita.

Judul aslinya : Ditilang Polisi , dan Polisi itu temenku

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jono segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati Jono berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala.Jono bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.

Prit!

Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jono menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.
Hey, itu khan Bobi, teman mainnya semasa SMA dulu.
Hati Jono agak lega.
Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
“Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!”
“Hai, Jon.” Tanpa senyum.
“Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru.
Istri saya sedang menunggu di rumah.”
“Oh ya?”
Tampaknya Bobi agak ragu. Nah, bagus kalau begitu.

“Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.”
“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.”

Oooo, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jono harus ganti strategi.

“Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.”

Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.

“Ayo dong Jon. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu.”

Dengan ketus Jono menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bobi menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bobi mengetuk kaca jendela. Jono memandangi wajah Bobi dengan penuh kecewa.Dibukanya kaca jendela itu sedikit.
Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bobi kembali ke posnya. Jono mengambil surat tilang yang diselipkan Bobi di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jono membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bobi.

“Halo Jono, Tahukah kamu Jon, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jon. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam, Bobi)”.

Jono terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bobi. Namun, Bobi sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan… ….

Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati. Drive Safely Guys

:: indrag ::

November 29, 2008

Masih ngak kapok ya ?

Filed under: Tulisan Bebas, Uneg-uneg - indrag @ 7:29 am

Baca deh disini

Ngak pada kapok apa ya ? ngak malu apa ya ?
Dikira orang lain masih bisa dibodoh-bodohin kali ya ?
Kok bisa-bisanya harga laptop dianggarkan seharga 35 juta per unit.
Mau jadi apa negeri ini kalo masih kayak gini terus, paling-paling itu laptop isinya cuma buat ngetik pake word, excel dan power point doank …
Terlalu canggih dan mahal laptop seharga itu … lagian emangnya udah pada bisa tuh pake komputer canggih ?

:: indrag ::

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here